Pages

Hello there!

Saturday, August 3, 2013

Pengertian Indeks Massa Tubuh Ibu Menyusui



Indeks Massa Tubuh (IMT) atau bodi mass index (BMI) merupakan alat ataucara yang Sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangandan kelibihan berat badan. Indeks massa tubuh (IMT), atau indeks Quetelet, merupakan proksi heuristik untuk lemak tubuh manusia berdasarkan berat badan seseorang dan tinggi. IMT tidak benar-benar mengukur persentase lemak tubuh. Itu di temukan antara tahun 1830 dan 1850 oleh polymath asal belgia Adolphe Quetelet selam pengembangan “fisika sosial”.
Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dap[at menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang. IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti underwater weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry. IMT merupakan altenatif untuk tindakan pengukuran lemk tubuh karena murah serta metode skrining katagegori berat badan yantg mudah di lakukan.
Gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas SDM. Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa merupakan masalah penting karena dapat mempengaruhi produktifitas kerja serta dapat menjadi faktor risiko dari beberapa penyakit tertentu. Oleh karena itu, pwmantauan gizi perludi lakukan secara berkesinambungan oleh setiap orang, Indeks massa tubuh (IMT) atau body mass indeks (BMI) merupakan cara untuk memantou status gizi orang dewasa, khusunya yang berkaitan dengan kekurangan dan kellebihan berat badan (obesitas) berat badan kurang dapat menadapatkan risiko terhadap pebnyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungk,inkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang. Dapat disimpulkan bahwa indeks massa ibu menyusui adalah cara yang sederhana memant5au status gizi ibu menyusui, khusunya yang berkaitan dengan kekurang dan kelebihan berat badan bagi ibu menyusui.

Faktor yang mempengaruhi Tingkat pengetahuan suami



1. Pendidikan
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi wawasan dan pengetahuan suami sebagai kepala rumah tangga. Semakin rendah pengetahuan suami maka akses terhadap informasi kesehatan istrinya akan berkurang sehingga suami akan kesulitan untuk mengambil keputusan secara efektif. Akhinya, pandangan baru yang perlu diperkenalkan dan lebih disosialisasikan kembali untuk memberdayakan kaum suami mendasarkan pada pengertian bahwa:
1). Suami memainkan peranan yang sangat penting, terutama dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan kesehatan reproduksi pasangannya
2). Suami sangat berkepentingan terhadap kesehatan reproduksi pasangannya
3). Saling pengertian serta kesetimbangan peranan antara kedua pasangan dapat membantu meningkatkan prilaku yang kondusif terhadap peningkatan kesehatan reproduksi.
4). Pasangan yang selalu berkomunikasi tentang planning keluarga maupun kesehatan reproduksi antara satu dengan yang lainnya akan mendapatkan keputusan yang lebih efektif dan lebih baik.
Begitu pentingnya partisipasi suami dalam asuhan kehamilan, namun keadaan masih merupakan bagian kecil dalam masyarakat Indonesia. Dari hasil penelitian diketahui partisipasi suami dalam kesehatan reproduksi masih sangat rendah.
Beberapa pandangan yang salah di atas harus diluruskan. Kesadaran, pengetahuan, sikap, dan prilaku suami dalam kesehatan reproduksi umumnya :
1). Suami merupakan pasangan atau patner dalam proses reproduksi, sehingga beralasan apabila suami istri berbagi tanggung jawab dan peranan secara seimbang untuk mencapai kesehatan reproduksi dan berbagi beban untuk mencegah penyakit serta kompliksi kesehatan reproduksi dan kehamilan
2). Suami bertanggung jawab secara sosial, moral, dan ekonomi dalam membangun keluarga.
3). Suami secara nyata terlibat dalam fertilitas dan mereka mempunyai peran yang penting dalam mengambil keputusan
4). Partisipasi dan tanggung jawab suami baik secara langsung maupun tidak langsung dalam asuhan kehamilan saat ini masih rendah.
Kehamilan merupakan suatu pristiwa yang luar biasa dan merupakan anugrah Tuhan YME, maka sebuah kehamilan perlu mendapat perhatian khusus dari ibu sendiri, suami, dan keluarga yang lain. Partisipasi suami sangat dibutuhkan untuk dukungan psikis, fisik, sosial, dan spiritual. Partisipasi dalam asuhan kehamilan ini merupakan refleksi dari peran suami dalam keluarga.
2. Informasi
Menurut informasi adalah rangsangan – rangsangan (stimulus) yang disampaikan kepada sasaran informasi tersebut pada dasarnya adalah hasil pengertian atau pendapat sumber yang ingin disampaikan. Informasi dapat berupa pengetahuan, Nasehat,  hiburan dan lain - lain  yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang keadaan reproduksi meliputi materi anatomi dan fisiologi sistim reproduksi, seksualitas dan gender, kehamilan, kontrasepsi dan penyakitmenular seksual
Dengan memberikan informasi – informasi tentang cara – cara mencapai hidup sehat pemeliharaan kesehatan dan cara – cara menghindari penyakit melalui penyuluhan kesehatan dan meningkatkan pengetahuan , sikap dan tindakan kesehatan dalam hal ini perubahan perilaku yang diharapkan akan berdasarkan pengertian dan kedasaran orang yang bersangkutan .
Informasi adalah proses pengoperasian rangsangan (stimulus) dalam bentuk lambang atau symbol bahasa atau gerak (non-verbal), untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Stimulus atau rangsangan ini dapat berupa suara / bunyi atau bahasa lisan, maupun berupa gerakan, tindakan atau symbol – symbol yang diharapkan dapat dimengerti oleh pihak lain dan pihah lain itu merespon atau bereaksi sesuai dengan maksud pihak yang memberikan stimulus. Oleh sebab itu reaksi atau respon, baik dalam bentuk bahasa maupun dalam symbol – symbol ini merupakan pengaruh atau hasil proses komunikasi. Proses komunikasi yang menggunakan stimulus atau respon dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tulisan selanjutnya disebut komunikasi  verbal.
Informasi adalah, keterangan pemberitahuan kabar atau berita tentang suatu media dan alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, poster dan spanduk. Media komunikasi adalah media yang digunakan pembaca untuk mendapatkan informasi sesuatu atau hal tentang pengetahuan. Berkaitan dengan penyediaan informasi bagi managemen dalam pengambilan keputusan, informasi yang diperoleh harus berkualitas kualitas informasi tergantung tiga hal yaitu :
a.       Akurat, bebas dari kesalahan, tidak bias atau menyesatkan.
b.      Tepat waktu, informasi yang disampaikan tidak terlambat.
c.       Relevan, informasi mempunyai manfaat bagi pemakainya.
3. Usia
Usia adalah variabel yang sudah diperhatikan dalam penyelidikan epidemiologi, yaitu pada angka kesulitan ataupun angka kematian.
Usia seseorang dapat mengetahui perubahan selama kehamilan wanita hamil banyak membutuhkan dukungan dari lingkungan keluarga, suami untuk meningkatkan dukungan kesehatan secara optiomal. Masing-masing wanita hamil harus dikaji secara teliti, misalnya perkembangan fisik, perhatian dan kemampuan untuk memeriksakan kesehatan ibu hamil.

Bermain Kuis



 Bermain kuis atau dikenal dengan strategi pembelajaran Team Quiz. Langkah-langkah pembelajaran Team Quiz adalah sebagai berikut:
1.      Guru membentuk tiga kelompok (disesuaikan jumlah siswa).
2.      Membagi tugas secara bergantian untuk membuat soal, jawaban dan penilaian.
3.      Buat skor masing-masing jawaban tiap kelompok.
Team Quiz adalah suatu kegiatan tanya jawab antar kelompok. Dalam kegiatan bertanya dan menjawab akan terjadi proses belajar yang tidak membosankan. Keterampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan pendapat yang mengatakan ”Berfikir itu sendiri adalah bertanya”.
Pengertian bertanya adalah ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenai. Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong berfikir.
                     Dari  pendapat dan pengertian tersebut, bertanya  menunjukkan bahwa, baik yang bertanya maupun yang menjawab telah terjadi proses berfikir dari dirinya. Sedangkan berfikir merupakan proses belajar. Pemecahannya adalah mengajukan pertanyaan tentang semua informasi penting.
               Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan tentang fakta yang disampaikan dengan kata-kata sendiri, bukannya mengulang tepat seperti yang tertulis, membantu siswa mempelajari makna teks itu dan bukannya sekedar menghafalkannya Pendapat ini mendukung bahwa memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat pertanyaan-pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari teman adalah sama dengan memberi kesempatan belajar kepada siswa, sehingga pembelajaran berpusat pada siswa atau student center.

Pembelajaran Matematika



1. Pengertian
            Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

      2. Fungsi dan Tujuan
            Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan
                  Pembelajaran Matematika bertujuan melatih cara berfikir dan bernalar, mengembangkan aktivitas kreatif, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, dan mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan mengkomunikasikan gagasan

      3. Pembelajaran
                  Pembelajaran Matematika akan bermakna bagi siswa apabila mereka aktif dengan berbagai cara untuk mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. Dengan demikian suatu rumus, konsep, atau prinsip dalam matematika, seyogyanya ditemukan kembali oleh siswa di bawah bimbingan guru. Secara khusus, pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (cotextual problem).

      4. Penilaian
                  Penilaian yang dilakukan lebih berfokus pada penilaian berbasis kelas. Dalam merancang penilaian, termasuk memilih teknik dan alat penilaian yang digunakan adalah penilaian tertulis, penilaian kinerja, dan penilaian karya atau portofolio.
                  Standar Kompetensi dirancang secara berdiversivikasi, untuk melayani semua kelompok siswa (normal, sedang, tinggi). Kelompok normal adalah kelompok yang memerlukan waktu belajar relatif lebih lama dari kelompok sedang, sehingga perlu diberikan pelayanan dalam bentuk menambah waktu belajar atau memberikan remediasi. Sedangkan kelompok tinggi adalah kelompok yang memiliki kecepatan belajar lebih cepat dari kelompok sedang, sehingga guru dapat memberikan pelayanan dalam bentuk  akselerasi (percepatan) belajar atau memberikan materi pengayaan.
Beberapa aspek penilaian sebagai berikut:
  1. Karya meliputi: garis bilangan, maket, model, peta, rumus, dan bangun ruang.
  2. Kinerja atau unjuk kerja meliputi: menghitung, menimbang, mengukur jarak, menafsir, mencatat data, dan membuat tabel, grafik, diagram.
  3. Perilaku: menunjukkan sifat teliti, menunjukkan sikap kritis, dan kebiasaan berfikir logis.

Friday, August 2, 2013

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX Dengan Menggunakan Alat Peraga Pada Materi Listrik Dinamis di SMPN 1



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masalah siswa dalam belajar fisika di kelas salah satunya adalah kurangnya memahami hal-hal penting dari materi pelajaran yang disajikan. Hal-hal penting itu dapat meliputi kesulitan siswa memahami konsep materi pelajaran. Konsep fisika itu dapat berupa konsep yang nyata ataupun yang  abstrak. Konsep-konsep dalam pelajaran fisika, lebih banyak mempelajari tentang konsep yang abstrak. Konsep fisika yang abstrak itu menimbulkan kesulitan siswa untuk memahaminya. Kesulitan itu kemudian yang menyebabkan rendahnya aktivitas siswa mengikuti pembelajaran fisika di kelas. Secara ideal seharusnya siswa dapat mengupayakan sendiri pemahaman yang mendalam tentang materi pelajaran dirumahnya sendiri.
Namun ada berbagai kendala yang akan ditemui ketika siswa belajar di rumah. Karena siswa secara nyata terkadang tidak mengetahui bahwa sebuah alat atau bahan yang ada di rumahnya sebenarnya merupakan alat atau bahan yang menggunakan konsep-konsep fisika dan dapat digunakan sebagai sumber belajar. Upaya siswa memahami materi pelajaran juga dapat menggunakan sumber belajar di sekitar lingkungan rumahnya. Misalnya, penggunaan lampu pada kenderaan sepeda motor yang digunakan, penggunaan kristal pada lampu pembias dirumah.
Berdasarkan contoh-contoh tersebut siswa dapat mengetahui penerapan konsep-konsep fisika yang ada di lingkungannya. Akan tidak mudah bagi siswa sendiri untuk mengetahui begitu banyaknya sumber belajar yang ada di lingkungannya. Karena itu, penguatan pembelajaran yang terbaik sebenarnya harus dimulai dari sekolah dan dibimbing oleh guru. Berbagai  penelitian yang telah dilakukan bahwa siswa bersikap pasif saat proses belajar mengajar  fisika berlangsung, siswa lebih banyak duduk diam ditempat, dan mendengarkan guru yang aktif menjelaskan materi pelajaran. Saat dilakukan diskusi kelompok, sebagian siswa bekerja sendiri, dan situasi kelas dalam berdiskusi tidak menunjukkan aktivitas yang berarti melainkan sebagian siswa hanya menunggu hasil diskusi kelompok dari siswa yang lebih pintar dan mau belajar.
Diskusi kelompok yang dibuat guru, tidak menarik minat siswa sehingga siswa tidak tertarik melakukan kegiatan belajar mengajar. Setelah dilakukan wawancara dengan beberapa orang siswa, ternyata siswa merasa kurang diaktifkan oleh guru, tidak diberi tanggung jawab dan tugas dalam belajar, sebagian siswa mengerjakan tugas-tugas fisika di kelas sebelum masuk jam pelajaran fisika. Dengan kurang aktifnya siswa dalam belajar, mengakibatkan hasil belajar yang dicapai siswapun pada akhir semester rendah.
Disisi lain, selama ini dalam proses belajar mengajar guru belum banyak menggunakan alat peraga dan memanfaatkan lingkungan sekolah. Padahal menurut Kurikulum KTSP saat ini, para siswa dituntut untuk memiliki kompetensi yang dapat diterapkan untuk mempelajari alam di sekitar lingkungannya guna mendukung tercapainya perkembangan kemampuan berfikir logis, kritis dan kreatif siswa. Untuk melaksanakan pembelajaran fisika  yang aktif dan kreatif dapat merancang pembelajaran menggunakan alat peraga agar dapat merangsang siswa untuk melakukan sesuatu kegiatan dalam belajar sehingga siswa  terlatih cara berfikir dan berbuat dalam pelajaran fisika.
Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bekerja dan belajar sendiri atau berkelompok dengan mengikuti suatu sistematika yang dapat membantu dalam melaksanakan tugasnya. Tujuan dari pembelajaran yang aktif, kreatif dan  menyenangkan adalah untuk memperbaiki pembelajaran agar hasil belajar siswa lebih baik dari sebelumnya (Darliana, 2007).