Pages

Hello there!

Sunday, August 4, 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.F DENGAN HEPATITIS VIRUS AKUT DI RUANG ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN



BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang Masalah
Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius 78 % dari pada pengidap masalah ini bermukim di asia timur dan asia tenggara. Para pengidap hepatitis di Asia Tenggara yang mendapat infeksi sewaktu bayi dan anak-anak cenderung berkembang menjadi pengidap hepatitis kronis dan selanjutnya mempunyai resiko menjadi sirosis hati dan kangker hati)
Penyakit hepatitis virus akut ini dahulunya dinamakan hepatitis infeksiosa, sampai sekarang hepatitis virus akut masih bersifat edemas di Negara-negara berkembang sehubungan dengan lingkungan dan senantiasa yang masih buruk, daerah beriklim buruk, pada daerah beriklim tropis seperti Indonesia, penyakit sering timbul selama musim hujan dan terutama menyerang anak-anak dan dewasa muda. ().
Di indonesia diperkirakan sekitar 2-4 % dari total jumlah penduduk menderita hepatitis virus alat akut atau 4 sampai 8 juta orang angka kasus hepatitits 5 sampai 10% dari jumlah penduduk. Ketua kelompok departemen kesehatan Ali Sulaiman menjelaskan hepatitis virus akut bersifat tidak menjadi kronis dan bisa sembuh sempurna, hanya sekitar 0,5% dari penderita yang mengalami serangan akut hingga berakibat vatal atau membahayakan keselamatan jiwanya. Hal ini berbeda dengan hepatitis B dan C yang termasuk penyakit hati kronik atau menahun, bila tidak diobati dengan baik penderita bisa mengalami sirosis hati dalam waktu 15 sampai 30 tahun sejak terinfeksi virus hepatitis bahkan kangker hati.)
Hepatitis adalah suatu peradangan jaringan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis, secara popular di kenal juga dengan istilah penyakit hati yang disebabkan oleh berbagai macam penyebab seperti virus(penyebab terbanyak), bakteri salmonella thypi, parasit, obat-obatan, bahan kimia alami atau sintesis yang merusak hati(hepatotoksik), alcohol, cacing, gizi yang buruk dan autoimun, ()
Adapun jenis hepatitis atau radang hati dapat dibagi dalam beberapa macam jenis, yaitu : hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D,hepatitis E, hepatitis G. Jenis hepatitis yang banyak dijumpai adalah jenis hepatitis A,B, dan C.Hepatitis dapat di klasifikasi menjadi hepatitis virus akut dan hepatitis virus kronik. Hepatitis yang perjalanannya akut biasanya hepatitis A, hepatitis yang kronis hepatitis B dan hepatitis C. ()
Tanda dan gejala yang timbul pada hepatitis virus akut antara lain, nyeri  perut dan bagian atas, sakit kepala, lelah, tidak ada nafsu makan (anoreksia), mual, muntah, demam ringan, malaise (perasaan tidak enak badan), urin berwarna teh, fses berwarna tanah dan kulit menjadi ikterik (kuning). ()
Hepatitis virus akut atau radang hati menimbulkan beberapa masalah keperawatan yaitu : Resiko kekurangan volume cairan dan elektronik, kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh), intoleransi aktifitas, resiko infeksi(pada orang), nyeri berhubungan dengan inflamasi hati, resiko perubahan integritas kulit, perubahan kenyamanan, keletihan dan resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan pengurangan sintesis protombin dan penurunan absorpsi vitamin K. ().
Apabila masalah tersebut tidak di tangani serius dan tidak diberikan asuhan keperawatan secara berkeseimbangan maka akan terjadi komplikasi yaitu : sirosis hati, hepatitis fulminan dan karsinoma hepatoseluler, anemia aplastik dan hepatitis kronis yang terjadi apabila individu memperlihatkan gejala dan antigen virus yang menetap dari 6 (enam) bulan. Gambaran klinis hepatitis aktif kronik atau fluminan mungkin mencakup gambaran kegagalan hati dengan kematian dalam 1 minggu sampai beberapa tahun kemudian.
Perawatan pada pasien hepatitis tidak ada obat khusus yang dapat langsung menyembuhkan hepatitis A. Pengobatan yang diberikan hanya bersifat suportif yaitu seperti, Tirah baring yaitu istirahat di tempat tidur terutama pada fase awal penyakit. Diet atau pengaturan makanan, pada prinsipnya makanan yang diberikan harus mudah dicerna dan mengurangi keluhan yang ada. Untuk itu penderita diberi makanan yang tinggi protein dan karbohidrat tetapi rendah serat. Selalu menjaga kebersihan terutama dengan jalan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, alat makan dan minum harus dicuci secara terpisah, dan menghindari kontak badan dengan nonpenderita. Adakalanya parasetamol diberikan bila penderita demam dan sakit kepala, antasida diberikan bila mual dan muntah, dan obat tradisional lainnya seperti HP pro. Pientze huang, dan sebaginya yang mempercepat penyembuhan dan turunnya nilai transaminase (SGPT, SGOT)..
Berdasarkan uraian diatas maka seorang peawat mempunyai peran penting dalam memberi pelayanan kesehatan, perawat harus mengetahui bahwa hepatitis virus akut merupakan penyakit menular yang sumber infeksi berasal dari rute fekal oral biasanya melalui makanan dan minuman yang terinfeksi, memberikan penyuluhan kesehatan pada pasien atau keluarga dalam memperbaiki hygene makanan dan minuman, menjaga air minum agar tidak tercemar, perbaikan  sanitasi lingkungan dan dalam lingkungan dan dalam pemberian imunisasi.

Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Perawatan Lansia



BAB  I
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Menjadi tua adalah sesuatu yang sangat alamiah, terjadi pada setiap orang. Menjadi tua merupakan proses kehidupan yang tidak bisa ditolak. Tapi bagaimana ceritanya jika saat kita memasuki usia tua, kita justru tidak bisa menikmati hari tua. Banyak stigma negatif dialamatkan pada para lanjut usia lansia. Uzur, sakit-sakitan dan hidupnya bergantung pada orang lain.  Sisa hidupnya hanya akan merepotkan keluarga dan lingkungannya. Padahal jika melihat pada statistik keberadaan para lansia ini jumlah mereka sangat besar. Pada tahun 2000 penduduk lanjut usia tercatat sekitar 14,4 juta orang,  kini jumlah lansia mencapai 23 juta jiwa atau 10 persen jumlah penduduk. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat, bahkan pada 2020 diperkirakan akan membengkak menjadi 28,8 juta jiwa lebih. Peningkatan yang sama terjadi secara global. Catatan internasional menunjukkan lebih dari 60 persen penduduk lansia di dunia hidup di negara berkembang .  
negara yang maju adalah negara yang bisa menghargai pendahulunya. Ini berarti menghargai para lansia. Jumlah lansia juga bisa menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Semakin banyaknya lansia berarti sektor pembangunan terutama kesehatan telah berhasil Di Negara-negara maju seperti Amerika serikat dan Inggris, usia menopouse wanita adalah 51,4 tahun, sedangkan di Asia tenggara adalah  51,09 tahun,. Sindroma menopouse dialami oleh banyak wanita hampir diseluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57 % di Malaysia. 18% di Cina dan 10% di Jepang dan Indonsia dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor  berbedaan  jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Pola makan wanita Eropa dan Amerika dapat miningkatkan kadar estrogen didalam tubuh dibandingkan dengan wanita Asia, sehingga ketika masa menopouse tiba jumlah estrogen drastis menurun menyebabkan tingginya sindroma menopouse.
Penyakit metabolik seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, dan osteoporosis sering sekali dirisaukan oleh orang tua yang ada di tahap Lansia. penyakit metabolik merupakan momok bagi orangtua Lansia. Usia diatas 50 tahun rentan sekali terhadap penyakit-penyakit, yang diantaranya: kencing manis (diabetes melitus), tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke, serta pengeroposan tulang (osteoporosis).Kehidupan perempuan dibagi dalam empat kurun waktu, yaitu masa kanak-kanak, remaja, reproduksi, dan pasca reproduksi. Perubahan masak kanak-kanak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan masa pubertas  ditandai dengan datangnya menstruasi pada perempuan atau menarche.
Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun. Pada usia lanjut akan terjadi berbagai kemunduran pada organ tubuh. Namun tidak perlu berkecil hati, harus selalu optimis, ceria dan berusaha agar selalu tetap sehat di usia lanjut. Jadi walaupunb usia sudah lanjut, harus tetap menjaga kesehatan.
Salah satu pembangunan kesehatan Indonesia adalah meningkatnya angka harapan hidup. Keberhasilan pembanguan kesehatan telah meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia dari tahun ketahun. Dari data sensus penduduk tahun 2000 jumlah perempuan berusia diatas 50 tahun baru mencapai 15,5 juta jiwa atau 7,6% dari total penduduk.
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2005, Umur Harapan Hidup (UHH) wanita Indonesia adalah 68,2 tahun sedangkan tahun 2020 jumlahnya meningkat menjadi 30,0 juta atau 11,5% dari total jumlah penduduk (Depkes RI, 2005) dikatakan juga bahwa meningkatnya usia harapan hidup tersebut, proposi wanita lanjut juga akan mengalami peningkatan dan harapan para wanita dapat menikmati kehidupan yang nyaman dan berkualitas.

Imunisasi



Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien yang mencegah penyakit yang merupakan bagian kedoktoran preventif yang mendapatkan prioritas. Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut pada program imunisai yaitu penykit tuberculosis, difteri, perturis, tetanus, campak dan hepatitis – B.
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah:  
a.    Tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yanng di sebabkan oleh kuman TB ( Mycobacterium tuberculosis). Penyakit TB ini dapat menyerang semua golongan umur dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang TB dangan kematian 3 juta orang pertahun. Di Negara-negara berkembang ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang. 
b.    Difteri
Difteri merupakan penyakit infeksi ynag disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae menyerang saluran pernafasan terutama terjadi pada balita. Penyakit difetri mempunyai kasus kefatalan yang tinggi. Pada penduduk yang belum divaksinasi ternyata anak yang berumur 1-5 tahun paling banyak diserang karena kekebalan (antibody) yang diperoleh dari ibunya hanya berumur satu tahun.
c.    Pertusis
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan  oleh Bordotellapertusis pada saluran pernafasan. Penyakit ini merupakan  penyakit yang cukup serius pada bayi usia dini dan tidak jarang menimbulkan kematian. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut lainnya, pertusis sangat mudah dan cepat penularannya. Penyakit ini dapat merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan terutama di daerah yang padat penduduk. 
d.   Tetanus
Penyakit tetanus merupakan penyakit yang di sebabkan oleh kuman bakteri Clostridium Tetani. Kejadian tetanus yang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir ( tetanus neondotorum ). Penyakit terjadikarena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi melalui tali pusat yang kurang terawat. Kejadian seperti ini sering kali ditemukan pada persalinan yang dilakukan oleh dukun kampung akibat memotong tali pusat memakai pisau atau sembilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daun dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk mencegah kejadian tetanus neonatorium ini adalah dengan pemberian imunisasi.    
e.    Poliomielitis
Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Berdasarkan hasil surveilans AFP (Acute Flaccide Paralysis) dan pemeriksaan laboratorium, penyakit ini sejak tahun 1995 tidak ditemukan di Indonesia. Namun kasus AFP ini dalam beberapa tahun terakhir kembali ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.  

f.     Campak
Penyakit Campak (Morbilli) merupakanpenyakit yang disebabkan oleh virus campak, dan termasuk penyakit akut dan sangat menular, menyerang hampir semua anak kecil. Penyebab virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita bernafas, batuk dan bersin (droplet) .
g.    Hepatitis B
Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan  oleh virus hepatitis B. Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian imunisasi hepatitis pada bayi dan anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar mereka terlindung dari penularan hepatitis B sedini mungkin dalam hidupnya. Dengan demikian integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat diperlukan. 

Sistem Kekebalan Tubuh Bayi



Bayi demam yang disebabkan oleh Flu, batuk,  pnemonea, Ikterus, hipertermi, diare dan penyakit lainnya. Demam juga timbul karena hanya menderita batuk pilek saja atau  infeksi virus lainnya. menderita penyakit demam dan sesak nafas yang merupakan suatu tanda pneumonia. Demam dan ruam yang menyeluruh merupakan tanda-tanda utama penyakit Campak. Sedangkan demam akut 2 sampai 7 hari, lemah, cengeng. Bayi yang merasa sakit akan bereaksi dengan cara menghisap jarinya, mengayunkan tubuh, membenturkan kepalanya, wajah bayi akan tampak pucat. tubuh berada dalam kondisi waspada..
system kekebalan tubuh ada 2 yaitu:
2.2.1. Kekebalan aktif
Kekebalan aktif terjadi sebagai akibat stimulasi sitem imunologi yang menghasilkan antigen spesifik humoral (antibody) dan kekebalan seluler. Tidak seperti kekebalan pasif, kekebalan aktif biasanya dapat bertahan untuk beberapa yahun dan sering sampai seumur hidup.
Salah satu cara untuk mendapatkan kekebalan aktif adalah bila seseorang menderita sesuatu penyakit. Secara umum dapat dikatan, setelah seseorang sembuh dari suatu penyakit mereka menjadi kebal terhadap penyakit tersebut sampai seumur hidup. Perlindungan yang menetap untuk beberapa tahun sesudah infeksi dikenal sebagai memori kekebalan. Setelah adanya paparan antigen terhadap system kekebalan, sel limfosit (sel limfosit B memori) beredar dalam darah (dan juga menetap dalam sumsum tulang) selama beberapa tahun. Apabila terpaparlagi dengan antigen yang sama, maka sel itu akan memperbanyak diri dan menghasilkan antibody dengan sangat cepat untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit tersebut.
Cara lain untuk menghasilkan kekebalan akttif adalah melalui imunisasi. Vaksin akan berinteraksi dengan system kekebalan untuk menghasilkan respon imun yang setara dengan yang dihasilkan setelah seseorang menderita penyakit secara alami, tetapi tidak menyebabkan orang tersebut sakit atau mengalami komplikasi. Vaksin menghasilkan memori kekebalan yang sama apabila menderita penyakit tersebut.
Banyak factor yang mempengaruhi respon imun terhadap vaksin, termasuk adanya antibody maternal, sifat dan dosis antigen, cara pemberian dan adanya adjuvant (misalnya: aluminium utuk menambah potensi vaksin). Factor-faktor yang berasal dari tubuh penerima vaksin seperti ; imur, factor gizi, genetic, dan penyakit lain yang menyertai dapat juga mempengaruhi rspon kekebalan.
2.2.2. Kekebalan Pasif
Kekebalan pasif dapat terjadi dengan pemberian antibody yang berasal dari hewan atau manusia kepada menusia lain. Kekabalan pasif memberikan perlindungan terhadap beberapa infeksi tetapi bersifat sementara. Kadar antibody akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan, dan penerimaan tidak lagi kebal terhadap penyakit tersebut.
Bentuk yang paling umum dan kekebalan pasif adalah bayi yang menerima kekebalan dari ibunya. Antibodi disalurkan melalui  plasenta pada 1-2 bulan akhir kehamilan, sehingga seseorang bayi akan mempunyai antibody seperti yang dipunyai ibunya. Antibody ini melindungi bayi dari penyakit tertentu samapai bayi berumur 1 bulan sampai 1 tahun antibody seperti yang dipunyai ibunya. Antibody ini melindungi bayi dari penyakit tertentu sampai bayi berumur 1 bulan sampai 1 tahun. Perlindungan maternal ini terhadap polio dan pertusis.
Faktor yang mempengaruhi sisrim kekebalan tubuh bayi yaitu Sistim imunisasi ibu, pemberian kolustrum, pemberian ASI eksklusif, Berat badan lahir rendah, Kelahiran tidak cukup bulan (Prematur) dan status imunisasi bayi.