Pages

Hello there!

Wednesday, July 31, 2013

Gambaran Karakteristik Bidan Desa Tentang Asuhan Persalinan Normal Di Puskesmas



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial bagi ibu dan keluarga. Peranan ibu adalah melahirkan bayinya, sedangkan peranan keluarga adalah memberikan bantuan dan dukungan pada ibu ketika terjadinya proses persalinan. Dalam hal ini peranan petugas kesehatan tidak kalah penting dalam memberikan bantuan dan dukungan kepada ibu agar seluruh rangkaian proses persalinan berlangsung dengan aman baik bagi ibu maupun bagi bayi yang dilahirkan.
Setiap kehamilan merupakan resiko dan sebagian besar resiko tersebut tidak dapat diduga. Persalinan pertama merupakan hal yang paling berbahaya bagi ibu dan bayinya.
Lebih dari 50 ibu meninggal dunia setiap hari karena berbagai masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Hingga saat ini masih banyak ibu yang menderita komplikasi kehamilan yang mengancam kehidupan atau menyebabkan kecacatan berat pada ibu dan bayinya.
Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan, eklamsi, sepsis dan komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah. Melalui upaya pencegahan yang efektif, beberapa negara berkembang dan hampir semua negara maju, berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu ketingkat yang sangat rendah.
Persalinan normal yaitu proses pengeluaran buah kehamilan cukup bulan yang mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan presentasi kepala (posisi belakang kepala), dari rahim ibu melalui jalan lahir (baik jalan lahir lunak maupun kasar), dengan tenaga ibu sendiri (tidak ada intervensi dari luar) . Setiap intervensi yang akan diaplikasikan bidan dalam asuhan persalinan normal harus memiliki alasan dan bukti ilmiah yang kuat tentang manfaat intervensi tersebut bagi kemajuan dan keberhasilan proses persalinan.
Bidan adalah orang yang berada di posisi istimewa yang bertugas memberikan asuhan dan dukungan selama masa-masa penting dalam kehidupan seseorang wanita. Tanggung jawab bidan adalah memonitor kondisi ibu dan janin dalam uterus, mengenali adanya abnormalitas yang mungkin membutuhkan penanganan dan tindakan yang tepat dari dokter. Tujuan asuhan kebidanan adalah untuk membantu kelahiran seorang bayi yang sehat, keluar dengan sehat dan memuaskan ibu. Dukungan dan bantuan pada ibu membantu mengurangi kecemasan.
Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigma dari menunggu terjadinya dan kemudian menangani komplikasi menjadi pencegahan komplikasi. Persalinan bersih dan aman serta mencegah komplikasi selama dan pasca persalinan terbukti mampu mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir. Setiap intervensi yang akan diaplikasikan dalam asuhan persalinan normal harus mempunyai alasan dan bukti ilmiah yang kuat tentang mamfaat intervensi tersebut bagi kemajuan dan keberhasilan proses persalinan.
Penyebab langsung kematian ibu terutama disebabkan pendarahan 50%, Eklamsi 13 %, Infeksi 10%, Komplikasi Abortus 11%,  partus lama 9%, sedangkan  penyebab tidak langsung, untuk ibu hamil menderita KEP 37 % Anemia (Hb < 11 gr%) 40 %. Kejadian anemia pada ibu hamil akan meningkatkan resiko terjadinya kematian ibu dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia
Peranan bidan dalam melakukan asuhan persalinan normal adalah peranan profesional yang mana setiap tahap dari perkembangan persalinan harus memenuhi standar kebidanan yang berlaku, bidan bertanggung jawab atas semua tindakan yang diberikan terhadap setiap perkembangan persalinan mulai kala 1 sampai 4 dan sesuai dengan standar kebidanan yang baku.
Penyebaran masalah kesehatan berbeda untuk tiap individu, kelompok dan masyarakat dibedakan atas tiga macam yaitu : Ciri-ciri manusia/karakteristik, tempat dan waktu. salah satu faktor yang menentukan terjadinya masalah kesehatan di masyarakat adalah ciri manusia atau karakteristik .Yang termasuk dalam unsur karakteristik manusia antara lain: umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan,status sosial ekonomi,ras/etnik,dan agama
Pengetahuan adalah merupakan  hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang
Pelatihan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan tidak dari awal tetapi sekedar menambah pengetahuan dan keterampilan sehingga sesuai dengan klasifikasi yang diharapkan.
Masa kerja merupakan, masa yang di jalankan seorang dalam melakukan pekerjaannya, dihitung mulai pertama memulai pekerjaan. masa kerja dapat meningkatkan pengalaman dan pengetahuan tentang pekerjaan yang dilakukan, sehingga dapat mencari solusi terhadap suatu masalah berdasarkan pengalaman pada tugas terdahulu ().

Saturday, July 27, 2013

Pengertian gizi



Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energy
Tak satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur
Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.
Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh
C. Pemenuhan Gizi Balita
Masa balita (bayi di bawah lima tahun) dalam siklus kehidupan seorang tidak akan datang dua kali. Masa itu adalah periode paling kritis dalam meningkatkan kecerdasan, emosi sosial dan spiritual anak dikemudian hari. Menyadari pentingnya masa balita itu, tidak mengherankan periode itu disebut masa emas.
 Periode lima tahun pertama kehidupan anak, dipandang penting karena otak manusia pada saat dilahirkan pada dasarnya kurang lebih sama. namun pada lima tahun pertama proses tumbuh kembang seorang bayi berbeda, tergantung asupan dan rangsangan yang diterima, makin cepat perkembangan sel-sel otak balita. Makin banyak otak digunakan makin banyak jaringan otak terbentuk. Potensi kecerdasan anak sudah terbentuk sebesar 50% pada usia 4 tahun, dan mencapai 80% ketika anak mencapai usia 8 tahun. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan lingkungan yang diperoleh, kemampuan kecerdasan hanya dapat diubah sebanyak 20%.
Disinilah pentingnya perawatan dan pengasuhan balita. Jika berhasil merawat dan mengasuh anak sast balita denagn baik, kemungkinan besar kelak anak akan tumbuh dan kerkembang baik dalam hal kecerdasan, emosi atau mental, sosial, dan spiritual..
Anak Balita juga merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit. Kelompok ini yang merupakan kelopmpok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP). dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi atau anggapan yang menyebabkan anak balita ini rawan gizi dan rawan kesehatan antara lain sebagai berikut :
Anak anak bakita baru barada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa.
Biasanya anak balita ini sudah membunyai adik atau ibunya sudah bekerja penuh, sehingga perhatian ibu sudah berkurang. Anak balita sudak main ditanah, dan sudah dapat main diluar rumahnya sendiri, sehingga mudah terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang memungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai macam penyakit. Anak balita belum dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam memilih makanan. Di pihak lain ibunya sudah tidak memperhatikan lagi makanan anak balita, karena di anggap sudah dapat makan sendiri

Wednesday, July 24, 2013

Jika plasenta belum keluar , berikan oksitosin 10 unit I.M



Jika belum dilakukan pada penanganan aktif kala III jangan berikan ergometrin karena dapat menyebabkan kontraksi uterus yang tonik, yang bisa memperlambat pengeluaran plasenta. Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin  dan uterus terasa berkontraksi, lakukan penarikan tali pusat terkendali :
  1. Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan plasenta. Oksitosin dapat diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran bayi, dan jika oksitosin tidak tersedia, rangsang putting payudara ibu atau susukan bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0,2 mg I.M. Jangan berikan ergometrin kepada ibu dengan preeklamsia atau dengan tekanan darah tinggi, karena hal ini akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit serebro vaskular.
  2. Lakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT) dengan cara, satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat diatas simfisis pubis, selama kontraksi mendoron g korpus uteri dengan gerakan dorso kranial kearah belakang dan kearah kepala ibu. Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm depan vulva, jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat (2-3 menit). Selama kontraksi , lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus menerus, dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus.
  3. PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi, tangan pada uterus merasakan kontraksi, ibu dapat juga memberi tahu ketika ia merasakan kontraksi. Ketika uterus sedang tidak berkontraksi , tangan petugas dapat tetap berada pada uterus tetepi bukan melakukan PTT. Ulangi langkah-langkah PTT pada setiap kontraksi sampai plasenta terlepas.
  4. Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada tali pusat mendekati plasenta, keluarkan plasenta dengan gerakan kebawah dan ke atas sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban.
  5. Segera setelah plasenta dan selaputnya dikeluarkan, masase fundus agar menimbulkan kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah pendarahan pascapersalinan. Jika uterus tidak berkontraksi kuat selama 10-15 detik, atau perdarahan hebat terjadi, segera lakukan kompresi bimanual dalam. Jika atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 1-2 menit, ikuti protokol untuk perdarahan pascapersalinan.
  6. Jika menggunakn manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 15 menit, berikan oksitosin 10 unit I.M. dosis kedua, dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama.
  7. Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 30 menit, periksa kandung kemih dan lakukan kateterisasi jika kndung kemih penuh, periksa adanya tanda-tanda pelepasan plasenta, berikan oksitosin 10 unit I.M dosis ketiga, dalam jarak wakti 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama, siapkan rujukan jika tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta.
  8. Periksa ibu tersebut secara seksama dan jahit semua robekan pada sevik atau vagina atau perbaiki episiotomi.

Friday, July 12, 2013

Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan Bagian Atas



1.   Hidung
- Hidung terdiri dari hidung eksterna dan rongga hidung di belakang hidung   eksterna. Hidung eksterna terdiri dari kartilago sebelah bawah dan tulang hidung disebelah atas ditutupi bagian luarnya dengan kulit dan pada bagian dalamnya dengan membran mukosa.
- Konkha superior, inferior dan media ( turbinasi hidung ) merupakan tiga buah tulang yang melengkung lembut melekat pada dinding lateral dan menonjol ke dalam rongga hidung. Ketiga tulang tersebut tertutup oleh membran mukosa.
- Dasar dari hidung terbentuk oleh bagian dari maksila dan tulang palatine.   Atap dari rongga hidung merupakan celah yang sempit terbentuk oleh tulang frontalis dan sphenoid.
- Sinus paranasal terdiri dari : sphenoid, ethmoid, frontalis dan maksilaris.
  Sinus-sinus ini merupakan suatu rongga berisi udara dalam tengkorak yang berperan dalam meringankan kepala.  Sinus-sinus ini memiliki drainase ke dalam kavum nasi melalui muara-muara dibelakang konka.
- Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan paru – paru. Jalan nafas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran – kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru – paru. Hidung bertanggung jawab terhadap olfaktorius ( penciuman ) karena reseptor olfaksi terletak dalam mukosa hidung dan hidung juga membantu dalam persengauan.
Gambar 1 . Bagian Dalam Hidung                    Gambar 2. Sinus-sinus nasalis
2.   Faring
- Faring adalah ruangan dibelakang kavum oral yang meluas dari dasar tengkorak sampai laring.  Faring dapat dibagi menjadi 3 bagian: nasofaring, orofaring dan laring ofaring. Nasofaring terletak disebelah belakang rongga hidung, dibawah dasar dari tengkorak dan disebelah depan vertebra servikalis ke 1 dan 2. nasofaring bagian depan keluar ke rongga hidung dan bagian bawah keluar ke orofaring. Auditorius ( tuba eustacius ) keluar ke dinding lateral nasofaring pada masing – masing sisinya. Tonsil orofaring merupakan bantalan jaringan limfe pada dinding nasofaring posteriosuperior. Orofaring merupakan sesuatu yang umum pada sistem pernafasan dan pencernaan karena makanan masuk kedalamnya dari mulut dan udara masuk juga ke dalamnya dari nasofaring dan paru – paru.
  Orofaring pada bagian bawahnya berlanjut dengan laring ofaring, yang  merupakan bagian dari faring yang terletak tepat dibelakang laring dan ujung bawah esofagus.
- Udara diinspirasi adalah hangat. Lembab dan disaring karena udara tersebut melaui rongga hidung.
- Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif.

3.   Laring
          -  Laring merupakan struktur yang lengkap dari kartilago, kartilago tiroid,  epiglottis, kartilago krikoid dan dua buah kartilago aritenoid.
               Kartilago tiroid terbesar pada trakhea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun. Epiglotis, daun katup kartilago yang menutupi ostium kearah laring selema menelan. Kartilago krikoid satu – satunya cincin kartilago yang komplit dalma laring ( terletak di bawah kartilago tiroid ). Kartilago aritenoid ( 2 buah ) kartilago aritenoid; digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid. Membran mukosa : menghubungkan kartilago satu dengan lainnya dan dengan os hioideus.
-  Pita suara; ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara; pita suara melekat pada lumen laring.
-   Laring terletak pada garis tengah bagian depan leher, terbenam dalam kulit, kelenjar tiroid dan beberapa otot kecil, serta pada bagian depan laring ofaringeus dan bagian atas esofagus.
-  Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bagian dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.
4.   Trakhea
-   Trakhea merupakan tuba yang lentur atau fleksibel dnegan panjang sekitar 10 cm dan lebar 2,5 cm. Trakhea menjalar dari kartilago krikoid ke bawah depan leher dan ke belakang manubrium sternum, untuk berakhir pada sudut dekat sternum. Dimana trakhea tersebut berakhir dengan membagi bagian ke dalam bronkhus kanan dan kiri. Dileher trakhea disilangi pada bagian  depannya oleh istmus dari kelenjar tiroid dan beberapa vena.
-  Trakhea terbentuk dari 16 – 20 helai kartilago yang berbentuk C dihubungkan satu sama lainnya dengan jaringan fibrosa. Dengan konstruksi yang demikian membuatnya tetap terbuka bagiamapun posisi dari kepala leher. Permukaan posterior trakhea agak pipih ( karena cincin tulang rawan disitu tidak sempurna ). Tempat dimana trakea bercabang menjadi bronkhus utama kiri dan kanan dikenal sebagai karina. Karina memiliki bagian saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika dirangsang